Future of Brand Team: Skill Boleh Berubah, Nilai Tetap Menentukan
Tri Raharjo, CEO TRAS N CO Indonesia & Ketua Umum Asosiasi Brand Indonesia (ABI)
Ketika AI masuk ke dunia branding, perhatian banyak orang langsung tertuju pada teknologi dan tools. Padahal perubahan terbesar justru terjadi pada manusia. Bukan hanya cara mereka bekerja yang berubah, tetapi juga struktur tim, pembagian peran, dan keterampilan yang dibutuhkan oleh brand di masa depan.
Kalau di masa lalu, satu
tim fokus membuat konten, tim lain mengelola iklan, dan tim lainnya menangani
komunikasi. Peran-peran itu berjalan relatif terpisah. Kini semuanya saling
terhubung dan dipercepat oleh AI.
Satu orang dapat
mengerjakan tugas yang sebelumnya membutuhkan tiga atau empat orang, selama
memiliki kapabilitas yang tepat. Perubahan ini kerap disalahartikan sebagai
pengurangan peran manusia. Seolah-olah AI hadir untuk menggantikan, yang
sesungguhnya terjadi bukan penghilangan, melainkan pergeseran peran.
Di masa depan, brand akan
membutuhkan lebih banyak talenta dengan kombinasi kompetensi yang berbeda.
Brand strategist yang mampu membaca data sekaligus memahami makna. Brand yang
menjaga konsistensi suara dan nilai di tengah banjir konten. Marketer yang AI-literate,
yang tahu cara memimpin mesin, bukan dikendalikan, serta penjaga etika yang
memastikan pemanfaatan teknologi tetap selaras dengan kepercayaan publik.
Dengan kata lain, skill
teknis bisa dipelajari dan tools akan terus berganti. Tetapi nilai tidak boleh
ikut berubah. Brand bukan hanya soal kemampuan, melainkan karakter. Tim brand
yang hebat bukanlah yang paling canggih teknologinya, melainkan yang paling
jelas prinsipnya.
Saat ini banyak
organisasi (perusahaan) tergoda untuk berinvestasi besar pada teknologi, tetapi
kurang memberi perhatian pada pengembangan manusia. Pelatihan tools berjalan,
tetapi pembinaan cara berpikir strategis, etika, dan sense of brand sering kali
tertinggal.
Padahal di era AI,
kepemimpinan brand justru menjadi semakin penting. Pasalnya, masa depan
branding Indonesia sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusianya.
Organisasi membutuhkan tim yang bukan hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi
juga reflektif dalam mengambil keputusan. Bukan hanya cepat belajar, tetapi
juga bijak menentukan arah.
AI akan terus berkembang.
Skill yang relevan hari ini bisa menjadi usang esok hari. Namun brand yang
dibangun di atas nilai yang kuat akan tetap memiliki relevansi, apa pun
teknologi yang digunakan. Karena pada akhirnya, brand tidak dibentuk oleh
algoritma. Brand dibentuk oleh manusia dengan nilai, keputusan, dan tanggung
jawabnya. Selama nilai tetap menjadi kompas, perubahan teknologi bukanlah
ancaman, melainkan kesempatan untuk naik kelas.
Tri Raharjo,
CEO TRAS N CO Indonesia & Ketua Umum Asosiasi Brand Indonesia (ABI)


